Berdiskusi dengan cara "mangkuk kaca" #1

Akulturasi adalah percampuran budaya antar satu budaya dengan budaya lain, misalkan budaya rumah ibadah umat Islam bercampur dengan arsitektur budaya Tionghoa, yang seperti contohnya masjid cina yang bernama Al-Lautze 2 yang ada di JL. Tamblong, Bandung.
Akhirnnya akulturasi pun dijadikan topik pembahasan, apakah akulturasi membawa lebih banyak dampak negatif, atau positif? Menurut salah satu teman, berkata bahwa akulturasi membawa lebih banyak dampak positifnya, karena menurutnya akulturasi dapat membuka wawasan baru dan memberi budaya baru. Tetapi beberapa teman tidak setuju, karena menurut mereka, bila terlalu banyak budaya yang berakulturasi, maka budaya aslinya akan hilang. Diskusi ini pun semakin lama semakin seru, karena banyak sekali tanggapan, pernyataan, dan pertanyaan yang selalu muncul dari lingkaran fish bowl ini. Untuk teman-teman yang berada di luar lingkaran sebisa mungkin untuk tidak berbicara atau pun menanggapi diskusi yang sedang berjalan di dalam lingkaran tersebut, tetapi mereka dapat bergantian dengan teman yang menurut mereka orang tersebut telah berkontribusi dan menyatakan pendapat atau pertanyaan kepada lingkaran itu. Orang yang akan masuk ke dalam  lingkaran harus menepuk pundak teman yang akan bergantian keluar, begitu juga dengan orang yang ada di dalam lingkaran yang sudah berkontribusi banyak dan ingin bergantian dengan orang yang ada di luar lingkaran, yang jarang berada di dalam lingkaran tersebut.

Diskusi pun berlanjut, teman-teman pun semakin PD untuk melontarkan pertanyaan atau pertanyaan, suasana pun semakin seru, walaupun terkadang ada beberapa teman yang suka memberi pendapatnya yang terkadang kurang nyambung. Namun ada satu pertanyaan yang membuatku cukup bertanya-tanya juga kepada diriku, yaitu bagaimana bila bahasa Indonesia atau bahasa ibu lainnya terasimilasi dan mengapa tidak ada tempat les bahasa Indonesia dan bahasa ibu? Hal tersebut membuat aku berpikir bahwa benar juga ya mengapa jarang sekali ada tempat les yang mengajari mengenai bahasa Indonesia atau bahasa ibu, bahkan di SMIPA pun tidak diajarkan bahasa ibu, yaitu bahasa Indonesia. Akhirnya salah satu teman pun maju dan menjawab pertanyaan tersebut dengan lantang, bahwa mayoritas orang Indonesia masih beranggapan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang kampungan, sehingga mereka malu untuk mempelajari bahasa negaranya sendiri. Tetapi kita tetap harus mempelajari bahasa Inggris untuk berkomunikasi dengan warga asing.

Tidak lama kemudian diskusi ini pun selesai. Teman-teman sekelas pun ingin melakukan diskusi seperti ini, begitu juga denganku, karena diskusi ini memberi banyak sekali wawasan dan mengetahui banyak sekali pendapat dan cara berpikir orang yang macam-macam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s