Bila diberi kesempatan, mau tidak pindah kewarganegaraan?

Sebelum kami mulai berdiskusi, aku berbisik pada diriku sendiri, kalau aku diberi sebuah tawaran menggiurkan untuk pindah kewarganegaraan, mungkin aku akan memilih untuk pindah kewarganegaraan.
Trystan membuka pembicaraan dengan pernyataannya, bahwa ia tidak akan pindah kewarganegaraan, dengan alasan ia sudah cocok dengan Indonesia. Kemudian pernyataan tersebeut membuat Ray melontarkan pertanyaan, bila ada tawaran menggiurkan untuk pindah keluar negeri, seperti beasiswa contohnya. Tetapi tetap saja Trystan tidak akan pindah, karena menurutnya pasti budayanya berbeda. Ia juga memberi contoh perbedaan budaya, yaitu seperti budaya sapa-sapaan. Menurutnya dalam budaya sapa menyapa, Indonesia paling juara. 
Lalu Raffa menanggapi dengan pertanyaan menggunakan nada yang sedikit tinggi, “tau budaya itu dari mana?” Trystanpun menjawabnya dengan nada yang tinggi juga. Ia mengatakan bahwa ia pernah membaja dari sebuah buku yang berisi catatan seorang traveller dari Indonesia yang pernah keluar negeri. Ia juga berkata bahwa orang luar negeri itu cenderung lebih dingin, hal tersebut disebabkan oleh cuacanya. Tidak seperti Indonesia yang kebanyakannya adalah cuaca panas. Lebih banyak cuaca panas, lebih banyak interaksi dikalangan masyarakat. Mungkin jawaban tersebut membuat Ray sedikit bingung, lalu ia bertanya apa hubungan antar cuaca dengan relasi? Lalu Trystan menjawab “ya orang lebih banyak berinteraksi di luar rumah, apa lagi disaat cuaca panas.”
Kali ini aku suka sekali dengan jawaban Ray, “tapikan orang ga cuma ketemuan di luar rumah, bisa di café, bisa di restoran, atau tempat-tempat lain.” Lalu mungkin Trystan kehabisan kata dan akhirnya berkata “tapi kebanyakan orang lebih suka bertemu di luar rumah.” Alanna menguatkan perkataan Ray dengan mengatakan, berarti kalau tiba-tiba cuaca ganti, orang-orang tidak mau berinteraksi lagi dong?” Lalu Trystan tidak menjawabnya.
Kemudian Bintang masuk dan menyatakan pendapatnya, bahwa ia tidak mau pindah kewarganegaraan, karena budaya di Indonesia itu sangat banyak dan amat sangat kaya. Lalu menurutnya, mayoritas orang luar negeri itu tidak berinisiatif bertanya saat melihat orang kebingungan. Harus orang yang kebingungan yang bertanya kepada mereka dulu. Raffa pun membantah bahwa orang luar negeri itu malu untuk bertanya, mereka tidak tahu bahasa apa yang digunakan oleh orang asing tersebut.
Dari semua pembicara diatas, kami menjadi membahas mengenai masalah-masalah yang ada di Indonesia. Lalu Magali menyatakan bahwa masalah-masalah di Indonesia itu sudah susah untuk diobati. Keoptimisan Bintang pun keluar dan mengatakan bahwa kita harus memperbaiki masalah Indonesia satu per satu. Untuk masalah korupsi, seharusnya diberi sangsi lebih berat lagi.
Kelana pun menanggapi bahwa semua masalah tersebut disebabkan oleh pendidikan yang buruk di Indonesia. Jadi semua orang harus diberi pendidikan yang tinggi. Khansa memberi pertanyaan yang cerdik, “gimana kalau sekolah gratis sudah ada tapi belum merata? Kemudian Magali dan Bintang menambahkan, bagaimana bila anak-anaknyalah yang malas bersekolah?
Ray memberi tanggapan bahwa semua berawal dari orang tua masing-masing, jadi memang harus dididik oleh orang tuanya dengan benar dan baik. Karena aku sependapat dengan Ray, akhirnya aku ikut berdiskusi dengan mereka. Lalu Bintang berkata, bagaimana bila yang mempengaruhi anak itu adalah lingkungan rumahnya? Lalu akupun menanggapi pertanyaan Bintang, bahwa menurutku seburuk-buruknya lingkungannya, bila orang tua mereka mendidiknya dengan benar, anak itu tidak akan terbawa-bawa, malah bahkan dapat memperbaiki lingkungan tersebut.
Lalu Kelana menambahkan bahwa tidak hanya didikan orang tua dan sekolahnya, tapi tontonan sehari-hari juga banyak berpengaruh dikalangan anak muda maupun orang tua. Ethan pun setuju dengan pendapat Kelana, ia juga berkata bahwa iklan dan acara televise harus diubah konteksnya dan dapat memberi moral yang bagus bagi masyarakat Indonesia.
Semakin lama, topic pembahasan pun semakin melenceng dan out of context. Akhirnya pun diskusi ini ditutup oleh kakak.
Setelah diskusi ini selesai, aku pun jadi berpikir, oh iya, kalau mau pindah keluar negeri, hanya sekedar untuk sekolah atau kerja, kan tidak harus pindah kewarganegaraan. Aku pun akhirnya menyesal tidak menyatakan hal tersebut disaat diskusi berlangsung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s