Berbagi Pengalaman Bersama Opa Felix

Kami masih membutuhkan beberapa narasumber untuk mematangkan persiapan kami untuk perjalanan besar ke Lasem dan Semarang. Membutuhkan inspirasi, tips, dan saran dari orang-orang yang jauh lebih berpengalaman dari kita. Maka dari itu, kakak membawa narasumber lagi ke kelas kita. Beliau bernama Felix, tetapi ia biasa dipanggil dengan opa Felix.

Ia datang kekelas dengan wajah ceria dan cerah. Badan sedikit bungkuk. Kacamata bundar. Pakaian sederhana. Sandal yang dihias ulang olehnya. Ikat kepala batik. Seakan-akan ciri-ciri tersebut seperti pernah ku lihat disuatu tempat. Aku pun jadi teringat akan masa kecilku yang pernah kuhabiskan bersamanya. Beliau adalah teman dekat bapaku, dan ia cukup sering datang mengunjungi rumahku. Tetapi karena sudah lama tidak bertemu, aku pun lupa-lupa ingat, begitu juga dengannya terhadapku. Ia sudah lupa namaku tetapi masih ingat wajahku.
Ia datang ke kelas kami untuk sharing mengenai pengalaman perjalanannya ke Lasem dan Semarang. Opa juga menceritakan kira-kira barang apa saja yang perlu dibawa dan berbagi tips-tips penting.
Setelah ia bercerita sepatah dua kata, aku menjadi teringat bagaimana ia bercerita padaku dulu. Ia adalah seorang yang periang dan murah senyum, tidak malu untuk menunjukkan gigi ompongnya di bagian depan. Opa Felix mengawalinya dengan cerita bagaimana pengalaman selama di Lasem dan Semarang. karena tahu ia pernah ke Lasem, akhirnya banyak sekali yang bertanya kepadanya, “wah seperti apa sih Lasem sebenarnya” “Lasem bagus engga kotanya?” dan masih banyak lagi. Opa menjawabnya dengan intonasi yang sangat semangat dan ia tidak lupa untuk menyelipkan tawa atau lelucon. Ditengah-tengah ceritanya, ia juga menunjukan barang-barang unik yang ia bawa. Seperti contohnya tas selempangnya yang berbentuk seperti tas untuk membawa ayam. Satu hal yang aku suka dari semua percakapan panjang lebar tersebut, ia berkata bahwa, “jangan ketempat-tempat ikonik, seperti Sam Po Kong, justru datangilah tempat-tempat kecil yang jarang didatangi turis atau pun tempat wisata, seperti pasar. Karena disitulah kamu akan menemukan kehidupan yang asli!” Mendengar perkataan tersebut, aku sangat setuju dengannya, lagi pula datang ke tempat yang sudah sering di datangi orang, menurutku sangat membosankan dan paling “begitu-gitu saja”.
Lanjut ke ceritanya di Lasem, ternyata ia pergi ke sana karena opa sedang ada urusan dengan beberapa orang temannya. Di sana ia datang dengan kepala lurah. Ia diberi fasilitas dari lurah tersebut. Maka dari itu ia menyarankan kita untuk datang ke kelurahan tersebut. Lalu ia juga menyarankan kita untuk membawa sabun cuci baju, agar selama di sana dapat menyuci baju dan menghemat penggunaan baju.

Namun ia juga mengingatkan bahwa sebaiknya jangan terlihat mencolok seperti turis atau orang baru yang datang ke tempat tersebut. Mulai dari pakaian, sikap, dan juga cara kami berinteraksi. Jangan sampai kami yang jadi pendatang, tetapi kami lah yang tidak tahu aturan.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s