Perjalanan Pendek untuk Bertemu Singkong

Pada tanggal 29 Oktober 2015, kami, kelas Sinabung, berekspedisi ke Kampung Cireundeu, Leuwi Gajah, Cimahi. Kampung Cireundeu adalah salah satu kampung adat sunda yang terletak tidak jauh dari Bandung. Sehari sebelum kami berangkat, kami diberi tugas untuk mencari trayek, rincian biaya, dan membuat 10 pertanyaan untuk ditanyakan disaat sedang dilokasi. Pada saat perjalanan menuju kampung Cireundeu, memang kami sempat ragu-ragu dengan angkot yang kita naiki, apa lagi dengan sudah diberinya peringatan oleh kakak, bahwa kita harus turun dibawah jembatan Cimahi yang ada jalur keretanya; persisnya didepan dealer motor. Tetapi pada akhirnya kami sampai juga di kampung Cireundeu ini, walaupun kaki merasa sedikit lelah setelah henempuh tanjakan yang cukup curam tersebut.
Kampung Cireundeu terletak persisnya di kelurahan Leuwi Gajah, kecamatan Cimahi Selatan, kota Cimahi, provinsi Jawa Barat. Ternyata kampung ini sangat berbeda dengan apa yang sudah aku bayangkan dipikiranku. Memang sebenarnya aku bisa saja mencari dulu di internet seperti apa bentuk fisik kampung ini. Tetapi aku memilih untuk tidak melakukannya, karena aku ingin membuat diriku sendiri terkejut. Pertama yang terlintas dipikiranku setelah mendengar kata kampung Cireundeu adalah kampung adat yang masih sangat tradisional dan jauh dari kata modern. Ternyata bayanganku salah. Mayoritas penduduk sudah memilki setidaknya masing-masing satu motor perkepala keluarga, sudah menggunakan kompor gas, dan bentuk fisik rumah sudah menyerupai rumah-rumah penduduk lain di kota Bandung. Yang terbayang olehku adalah rumah pribadi mereka masih berbentuk seperti rumah-rumah tradisional, yang masih menggunakan tembok yang dianyam, atap terbuat dari ijuk, dan menggunakan bambu sebagai fondasi rumah. Namun memang kampung ini entah sedang sepi atau memang tidak banyak orang yang beraktifitas selama kami sedang berkunjung kesana. Memang terlihatnya kampung ini kecil, namun kampung Cireundeu ini ternyata memiliki masyarakat sebanyak kurang lebih 1000 penduduk. Tetapi, ternyata di kampung ini, tidak memiliki SMP dan SMA. Di Cireundeu hanya memiliki SD, yang di mana letaknya sangat strategis bagi seluruh warga. Kawasan terletaknya SMP dan SMA terdekat dari kampung ini ternyata cukup jauh dan memakan cukup banyak waktu untuk dapat mencapai sekolah dari kampung Cireundeu.
Setelah kami berbincang sedikit dengan salah satu guru di sekolah dasar di kampung Cireundeu, Pak Saripudin, menyatakan bahwa di sekolah ini sendiri ternyata kekurangan 2 guru, begitu juga dangan sekolah-sekolah lain yang berada di kawasan kampung Cireundeu. Ternyata faktor utama dari kekurangan guru tadi adalah karena jarak sekolah yang jauh dari tempat tinggal para guru. Rata-rata guru yang mengajar adalah dari luar kampung Cireundeu dan ternyata perjalanan mereka dari rumah pribadi ke sekolah adalah sekitar 4 kilometer, maka mereka harus menempuh setidaknya 8 kilometer perharinya. Perjalanan yang ditempuh mereka setiap hari tersebut sudah memakan banyak biaya, karena kebanyakan dari mereka menggunakan motor, maka mereka harus lebih sering mengisi bensin motornya. Maka dari itu banyak guru-guru yang tidak tahan untuk terus mengajar disitu, mereka lebih memilih untuk mengajar di sekolah lain yang lebih dekat dari kampung Cireundeu ini.
Salah satu yang membuat kampung yang terdiri dari hanya 1 RW dan 5 RT ini berbeda, yaitu budaya dari leluhur mereka yang masih dipertahankan hingga sekarang, untuk membiasakan diri tidak memakan nasi. Yang di mana hal tersebut cukup sulit untuk dilakukan oleh orang Indonesia yang sudah menjadikan nasi sebagai makanan pokok atau makanan sehari-hari. Masyarakat kampung Cireundeu memiliki kebiasaan untuk mengganti nasi menjadi singkong. Biasanya, singkong-singkong tersebut diolah kembali hingga menjadi seperti nasi. Tetapi tidak hanya dibentuk menjadi nasi, penduduk di sana juga mengolah singkong menjadi tepung, yang nantinya tepung tersebut dapat diolah kembali dijadikan kue, kerupuk, dan makanan lainnya.
Ternyata salah satu alasan mereka tidak menjadikan nasi sebagai makanan sehari-hari lagi karena mereka tidak ingin bergantung dengan kondisi alam, yang dimana sekarang Indonesia bisa dibilang sedang krisis beras. Indoensia sekarang masih harus mengekspor beras dari negara penghasil beras yang lain. Disaat masyarakat Indonesia lainnya sedang kesusahan mencari beras, masyarakat kampung Cireundeu tidak mengalami krisis apa-apa.
Memang dari leluhur mereka diajarkan untuk tidak boleh bergantung dengan siapa-siapa dan harus mandiri.
Setelah kami sampai di bale, kami sempat istirahat sebentar untuk meluruskan kaki dan memakan bekal kami. Setelah kami menghabiskan makan kami, lalu kami dipersilahkan untuk masuk ke dalam bale tersebut untuk untuk mendengar cerita dari kang Yana, salah satu kuncen di kampung Cireundeu, dan juga bertanya-tanya lebih lanjut mengenai sejarah-sejarah kampung ini yang kita masih belum ketahui.
Beberapa menitpun berlalu dengan cepat. Semakin lama memang mata terasa semakin berat. Bukan karena cerita kang Yana yang membosankan, namun karena tidak banyak teman-teman yang mau bertanya kepadanya, padahal aku tahu masih banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan kepada kang Yana didalam benak mereka, namun entah mengapa mereka tidak mau bertanya. Lalu aku jadi teringat kepada diriku juga, aku sendiri belum aktif bertanya. Namun, aku bingung apa yang mau ditanyakan. Akhirnya aku memutuskan untuk melihat ke list pertanyaan yang telah aku buat saat sebelum ke kampung Cireundeu.
Pertanyaan pertama yang aku tanyakan padanya adalah apakah semua penduduk di kampung ini berkepercayaan Sunda Wiwitan? Lalu ia menjawab bahwa di Cireundeu sendiri sudah tidak semua penduduk berkeperacayaan Sunda Wiwitan. Hampir setengah dari kampung ini sudah beragama Islam.
Lalu pertanyaan kedua yang kulontarkan adalah sudah berapa lama kampung ini telah berdiri? Namun kali ini ia berpikir dahulu sebelum menjawab. Lalu ia berkata dengan muka kecewa bercampur bingung. Ia berkata bahwa belum ada yang tahu sudah berapa lama kampung ini telah berdiri, bahkan tidak ada yang tahu juga sudah dari kapan atau siapa pendiri kampung ini. Namun asumsi mereka, kampung ini telah berdiri dari ratusan tahun yang lalu, berawal dari saat Belanda datang dan menjajah Indonesia.

Jawaban terkahir kang Yana kepadaku sebenarnya sudah menjawab tiga pertanyaanku. Memang tidak sepenuhnya terjawab, karena ia sendiri tidak tahu jawabannya, makan pertanyaan-pertanyaan tersebut masih menggantung dan belum memiliki jawaban hingga sekarang.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s