Pemilahan Sampah di Finland dan Indonesia

Sampah sudah menjadi hal yang biasa dan selalu dihasilkan oleh manusia. Karena bagiku sampah adalah hanyalah sampah yang sudah benar-benar tidak dapat dipergunakan lagi. Sementara alam hanya menghasilkan sampah yang tergolong sampah organik dan masih dapat diolah lagi menjadi barang lain, seperti pupuk, furnitur, dan lain-lain. Melainkan seperti manusia, manusia mayoritas menghasilkan sampah anorganik dan cenderung tidak dapat terurai. Seperti contohnya adalah kemasan snack, plastik minyak, tetrapack, dan masih banyak lagi.

Memang benar, manusia sangat sulit menghindari penggunaan barang atau makanan yag tidak berkemasan. Pada sehari saja, pasti semua orang setidaknya menghasilkan 1 buah sampah, baik anorganik maupun organik. Karena mayoritas sampah berasal dari manusia, maka manusia harus membuat inovasi ataupun alternatif yang dapat membuat sampah di dunia ini berkurang.

Seperti contohnya untuk di Finland, masyarakat dapat membantu pemilahan sampah khusus botol hanya dengan cara memasukkan botol tersebut ke dalam mesin yang bernama Pullonpalautus. Biasanya terdapat di toserba Lidl, Prisma, dan beberapa tempat lain.
Setiap botol yang diproduksi di Finland, biasanya akan memiliki label di bagian bawah botol yang mengatakan berapa harga botol tersebut. Namun tiap botol berharga beda-beda. Untuk ukuran paling kecil biasanya berharga 0,10 euro atau seharga Rp 1.496,- di Indonesia. Untuk botol yang berukuran sedang biasanya berharga 0,20 euro atau seharga Rp 2.992,- dan untuk botol yang paling besar atau botol beling biasanya berharga 0,40 euro atau seharga Rp 5.985,-. Setelah botol masuk ke mesin tersebut, botol langsung tersalurkan ke pabrik kecil untuk diolah kembali dan diproduksi kembali untuk minuman-minuman selanjutnya yang akan dijual.





Selain para penduduk yang telah menyumbangkan sampah botol mereka ke mesin ini mendapatkan uang, secara tidak langsung mereka juga membantu dan mendukung kegiatan di penambungan anak di Red Cross Emergency, tepatnya berada di Turku, Finland.

Untuk di Indonesia, khususnya di Kota Bandung, ternyata pemilahan sampah sudah mulai berjalan bagi lingkungan Gereja St. Laurentius. Gereja yang terletak di Jl. Sukajadi ini selalu menerima sampah-sampah kemasan seperti bungkus kopi, bungkus snack, ataupun bungkus detegen. Setelah semua sampah kemasan tersebut terkumpul, sampah akan diolah kembali menjadi sebuah kerajinan. Salah satu kerajinan tersebut adalah tas yang terbuat dari bungkus kopi yang telah dijait dan disatukan. Kerajinan-kerajinan tersebut biasanya dikerjakan oleh umat gereja maupun orang-orang yang berada di lingkungan gereja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s