Proses Belajar

Pada penghujung semester, kelas kami harus melaksanakan ujian-ujian akhir kelas 9. Pada ujian kali ini, kami harus melaksanakan beberapa ujian praktek. Salah satu ujian praktek yang harus kita laksanakan adalah ujian praktek mandiri. Setiap murid harus membuat sebuah karya inovatif yang  sekiranya dapat menyelesaikan masalah yang muncul di lingkungan dan karya tersebut harus sesuai dengan minat kita masing-masing.
Pada kali ini, aku memilih untuk membuat sebuah karya yang sebuah kursi penegak tulang punggung. Pertama ide ini muncul pada saat aku melihat kondisi kelas yang dimana disaat teman-teman sedang belajar, mereka cenderung duduknya tidak  tegak. Akhirnyapun aku cari tahu mengenai kursi-kursi pelajar SMP dan juga efek samping dari kebiasaan tidak duduk tegak.
Menurutku makna dari proyek ini adalah proyek ini membuatku menjadi lebih mandiri. Disaat pengerjaan karya ini, hal yang harus dibangun adalah kemandirian dan tidak boleh bergantung dengan orang lain. Karena bila kita tidak mandiri dalam pengerjaan proyek seperti ini, aku yakin karya yang dihasilkan tidak akan maksimal. Selain itu proyek ini membuatku belajar untuk mengatur waktu dengan baik. Aku merasa sedikit kerepotan saat membuat kursi ini karena aku kurang mengatur waktu dengan baik. Juga belajar untuk membuat plan b pada hal apapun. Karena disaat proses yang aku jalani, banyak sekali hal-hal yang tidak berjalan sesuai rencana ataupun adanya halangan yang menghambat.
Pada kursi ini, aku ingin membuat pelajar-pelajar SMP di sekolah manapun mendapatkan kursi belajar seperti ini. Tenyata masih banyak juga sekolah yang kurang memperhatikan jenis-jenis kursi yang dibeli. Biasanya hal yang kurang mereka perhatikan adalah nomor kursi yang sesuai dengan umur dan jenjang sekolah. SMP adalah masa-masa dimana anak-anak tumbuh dan berkembang, bila mereka dibiasakan menggunakan kursi yang salah, postur tubuh dan tumbuh kembangnya kurang maksimal.
Proses pembuatan karya ini sangat menarik bagiku. Membuat suatu benda yang sudah siap pakai seperti kursi ini, adalah hal yang baru bagiku. Aku menjadi tahu bagaimana cara membuat kursi dari awal hingga akhir. Tenyata tahap yang tersulit dari pembuatan kursi adalah disaat merancangnya. Perancang harus menyesuaikan postur tubuh manusia, teori-teori yang akan digunakan, tanpa kehilangan aesthetic kursi ini. Terkadang disaat kursi sudah sesuai dengan kriteria dan teorinya, hal yang kehilangan dari kursi tersebut adalah estetikanya. Begitu juga sebaliknya.
Kesulitan yang aku alami adalah pada saat merancang kursi yang tepat. Pada rancangan pertama, kursi sudah sesuai dengan estetika yang aku mau. Namun disaat aku membawa rancangan tersebut ke mentor, ia tidak menyetujui rancanganku, karena kursi tersebut tidak dapat digunakan untuk kursi pelajar. Akhirnya aku membuat rancangan kursi untuk yang kedua kalinya yang memang sudah sesuai dengan teori dan kemungkinan besar akan membuat pejalar terbiasa untuk duduk tegak selama belajar. Untuk rancangan yang kedua, aku merancang sandaran kursi dibuat lebih statis dan dapat digerakkan secara manual sesuai tulang punggung kita. Saat aku memberi rancangan ini, dan lagi mentorku tidak menyetujuinya. Ternyata bila aku membuat kursi seperti ini, postur tubuh pelajar-pelajar SMP akan menjadi lebih parah. Dengan rancangan sandaran kursi yang dapat diubah-ubah, yang akan sangat berpengaruh adalah otot perut karena otot tersebut harus menahan beban badan.
Pada akhirnya aku dan mentorku merombak dari awal sebenarnya kursi yang cocok untuk pelajar itu seperti apa. Akhirnya jadilah rancangan seperti kursiku sekarang. Dimana keergonomisnya lebih dimainkan di bagian busa kursi.
Dari hal ini, aku belajar bahwa segala sesuatu tidak ada yang instan dan segala harus melalui proses. Mentorkupun mengatakan bahwa memang yang paling sulit adalah merancangnya. Maka dari itu di manapun, kapanpun, dan siapapun akan jauh lebih mudah bila kita hanya meniru hasil karya orang lain.
Setelah segala rancangan telah dibuat dan segala kegagalan-kegagalan yang telah aku alami selama mengerjakan proyek ini, akhirnyapun karyaku selesai dengan hasil yang maksimal. Namun karya yang telah dibuat ini menurutku belum menyelesaikan masalah dengan tuntas. Karena kursi ini belum bisa membuat duduk para pelajar duduk dengan tegak dalam jangka panjang atau membuat tulang punggung mereka tegak secara permanen. Kursi ini baru sekedar membuat duduk pelajar tegak dalam jangka waktu yang pendek, namun disaat pelajar sudah kelamaan duduk dan merasa lelah, otomatis badan mereka akan membungkuk lagi. Selama ini, aku masih belum dapat menemukan solusi untuk hal tersebut.
Semoga proyek ini tidak akan berhenti di sini saja. Aku berharap nanti karya ini dapat dikembangkan lagi dan dapat menemukan solusi cemerlang yang bisa menyelesaikan masalah tersebut. Semoga proyek ini juga dapat menjadi pelajaran untuk kedepannya dan dapat berguna bagi semua orang.  

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s