Damn I Love Indonesia

Berdasarkan pengamatanku selama berjalan bersama KPB seminggu ini, banyak hal – hal yang membuatku cukup kesal. Mulai dari hal – hal kecil hingga hal – hal besar. Tetapi kebanyakan orang entah tidak sadar akan hal tersebut, atau memang mereka tidak peduli.

Mulai dari hal kecil, yaitu di mana para angkot berhenti. Masyarakat yang menggunakan angkot dapat memberhentikan angkot di mana saja mereka mau. Biasanya sih mereka ingin berhenti di tempat yang paling dekat dengan tujuannya. Terkadang yang membuat kesal adalah mereka tidak pernah memerhatikan di mana mereka berhenti. Salah satu contohnya adalah berhenti di tengah jalan atau berhenti pas di belokkan jalan yang di mana bisa membahayakan pengendara – pengendara lain di belakangnya. Coba kalau di negara – negara lain. Yang namanya angkutan atau transportasi umum, diharuskan untuk berhenti terminalnya sendiri. Kalau di Indonesia sih, bagaimana mau berhenti di terminal? Mayoritas terminal tidak ada di sini. Terminal bus yang sudah ada sekarang aja kemungkinan hanya sebagian yang berjalan. Sebagian lagi sudah hancur atau beralih fungsi menjadi tempat tinggal orang – orang yang tidak memiliki rumah. Yang ada sekarang hanya terminal bayangan, yang sebenarnya tidak resmi.

Belum lagi disaat perjalanan menuju Simpang Dago, aku dan ibuku sempat terjebak macet di Jl. Bungur. Setelah menunggu sekitar 4 menit, ternyata sebab dari kemacetan tersebut karena salah satu seorang kapolda akan keluar dari rumahnya. Ditambah lagi dengan 2 pengawal motor yang memaksa kami harus minggir. Memang hal ini tidak hanya kejadian sekali. Akupun berpikir, mengapa mayorits pejabat – pejabat tinggi di Indonesia selalu merasa mereka kastanya lebih tinggi daripada rakyat. Kemana – mana selalu ingin dikawal dan ingin perjalanan mereka nyaman dan tidak mau terkena macet. Berpikir bahwa mereka harus ke tempat kerja. Memang hanya mereka saja yang berkepentingan dan tidak ingin cepat – cepat di jalan? Belum lagi kalau kami bertemu dengan para PNS yang sudah pulang lebih cepat dari jam pulang mereka. Pejabat – pejabat tersebut selalu merasa bahwa mentang – mentang mereka memiliki pangkat dan posisi yang tinggi, rakyat hanyalah bawahan mereka. Biasanya privilege yang mereka dapatkan, digunakan untuk hal – hal negatif tersebut. Namun, bila dipikir – pikir ulang, bagiku rakyatlah yang memilki jabatan yang lebih tinggi dari mereka. Karena kamilah yang menggaji mereka. Itulah salah satu mengapa kami harus membayar pajak. Salah satunya adalah membayar pejabat – pejabat itu. Tetapi mengapa mereka yang belagu ya?

Bila saja masyarakat di Indonesia lebih peduli dengan hal-hal kecil seperti ini, pasti semua akan lebih tertib dan dapat mencegah masalah – masalah besar terjadi.

Advertisements

One Comment Add yours

  1. Oh man! I love Indonesia!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s