Minggu Penuh Inspirasi

Minggu ini aku belajar banyak dari perjalanan di KPB. Banyak pengalaman baru dan pelajaran yang kami dapatkan dari seminggu ini.

Seperti biasa, pada hari Rabu, 7 September, kami datang mengunjungi Sekepicung lagi. Untungnya kali ini kami tidak salah memilih angkot seperti minggu lalu. Kalau-kalau setiap minggu kita salah naik angkot lagi, uang kelas kita bisa habis hanya untuk bayar angkot deh. Tapi kita juga jadi belajar dari pengalaman sih. Sesampainya di Sekepicung, kita melakukan ritual kami, yaitu membereskan kebun. Kita selalu membersihkan kebun dari tanaman-tanaman liar yang ada, dalam rangka akan mengadakan kegiatan agrowisata kami. Malukan kalau kita sudah membuka program agrowisata tapi kebunnya masih kotor. Tapi bukan hanya itu. Tanaman-tanaman liar yang sudah kami cabut, sesudahnya kami buang ke dalam lubang kompos buatan kami, yang kemudian akan kami timbun dengan tanah lagi.
Setelah selesai membersihkan kebun, kami akhirnya jalan ke arah rumah milik Pak Lala, alias Rumah Mentari. Ya mau tidak mau kami harus melewati tanjakan yang terjal itu, yang kami beri julukkan “Tanjakan Ahuy!” Entah kenapa minggu ini terasa lebih lelah setelah kami menaiki tanjakan itu, padahal minggu lalu tidak selelah ini. Tetapi karena Kak Agni bilang kami diperbolehkan untuk beristirahat sesaat kami sampai rumah Pak Lala, jadi kami kembali bersemangat lagi. Sesudah sampai di rumah Pak Lala, kami pun langsung beristirahat makan sambil menunggu Pak Lala kembali setelah mengantarkan Bu Dewi, istri dari Pak Lala.
Setelah sekitar 45 menit menunggu, Pak Lala pun kembali. Ia menyampaikan pelatih silat kami, Pak Eson dan Pak Unan, telah menunggu kami di masjid. Ternyata hari ini Pak Eson menyarankan kami untuk latihan di masjid saja, dengan alasan agar toiletnya lebih dekat. Beliau khawatir kami tiba-tiba ingin ke toilet di tengah-tengah latihan. Kalau kata beliau, maklumlah di sini jauh toilet-toiletnya, yang terdekat hanya di masjid.
Oh iya, hari ini kami kedatangan tamu spesial dari Semi Palar yang sudah ikut kegiatan kami dari pagi, yaitu Kinan. Pak Eson ingin sekali mengkolaborasikan antar Wushu dengan Pencak Silat. Maka dari itu Pak Eson dan Pak Unan ingin Kinan menunjukkan beberapa gerakkan Wushunya. Kami pun melihat penampilan pendek dari Kinan. Inilah hal yang paling aku senang dari setiap penampilan Kinan. Ia selalu serius setiap akan melakukan Wushu, sehingga kami sebagai penonton terbawa suasana.

Menurutku pembelajaran pencak silat minggu ini lebih efektif dari minggu lalu. Hari ini kami berhasil belajar satu paket silat. Sementara minggu lalu kami hanya mempelajari 1 goong, yang kira-kira hanya berisi 9 gerakkan. Untuk pentas, target kami adalah untuk mempelajari semua paket itu. Maka untuk kedepannya, kami harus belajar lebih serius lagi sehingga kami sudah siap pentas di Semi Palar pada akhir semester.

Hari Kamis, 8 September, adalah hari kami belajar dengan Kak Angga di ITB. Seperti biasa, kami belajar mengenai tumbuh-tumbuhan. Bagi kami Kak Angga adalah kamus berjalan, karena ia mengetahui semuanya tentang tanaman, mulai dari taksonomi hingga ciri-ciri setiap tanaman. Hari ini kami mendapatkan banyak “OH TERNYATA” selama belajar. Seperti salah satunya adalah buah durian memiliki bau yang menyengat karena mereka ingin menarik perhatian macan dan gajah untuk memakannya. Kemudian setelah dimakan, otomatis kedua hewan tersebut akan membawa bijinya juga. Sehingga hewan-hewan tersebut dapat membantu perkembangbiakan pohon durian.

Setelah kami belajar dengan Kak Angga, kami diundang oleh Labtek Indie di Jl. Supratman, bersama Kak Mita untuk belajar mengenai “Design Thinking”. Pada kelas kali ini, Kak Mita mengajarkan kita untuk berpikir secara runut dan juga secara sistematis. Namun yang lebih utama lagi adalah mencoba untuk lebih empati kepada orang sekitar dan juga konsumen. Kak Mita berkata bahwa terkadang disaat akan mendesain atau membuat sesuatu, kami terlalu egois sehingga tidak mau mendengarkan apa kata konsumen. Juga kita harus mencoba untuk berpikir yang lebih luas. Coba untuk berimajinasi segila-gilanya. Mau segila apapun ide itu, coba tampung dulu, karena mungkin saja ide gila itu suatu hari menjadi inovasi yang sangat bermanfaat bagi orang banyak.
Quote yang sangat aku suka dari Kak Mita adalah “Try not to fall in love with your own ideas”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s