Kembali Ke Alam

Kita hidup di sebuah ekosistem. Manusia, hewan dan tanaman saling membutuhkan. Dimana di dalam ekosistem tersebut, setiap mahkluk hidup memiliki peran masing-masing yang penting. Maka bila ada satu makhluk hidup saja hilang, keseimbangannya pun akan terganggu. Belakangan ini, manusia mulai mengubah ekosistem tersebut menjadi sebuah “egosistem”. Mengapa “egosistem”? Karena manusia terkesan sematata hanya mereka kami yang membutuhkan makanan dan tempat tinggal. Sebagian dari manusia membutuhkan ke dua hal tersebut untuk kebutuhan sehari-hari, namun sebagian menggunakannya untuk berbisnis dengan orang. Yang dimana akan berujung dengan serakah. Padalah, tidak hanya manusia yang membutuhkan ke dua hal tersebut. Contohnya. Untuk membuat perumahan-perumahan baru bagi tempat tinggal baru manusia, biasanya para pengusaha mengorbankan sebuah lahan yang penuh dengan pohon-pohon besar atau pun sawah. Di dalam sebuah ekosistem kecil di lingkungan tersebut, bisa saja hidup ribuan jenis makhluk hidup yang saling membutuhkan satu sama lain. Satu pohon saja ditebang, dapat membunuh ratusan fauna yang tinggal di pohon tersebut. Ini baru dalam sejumlah satu lahan yang akan dijadikan sebuah perumahan. Bayangkan bila seluruh hutan di dunia mulai habis. CO2 sudah tidak dapat diserap oleh pohon, fauna-fauna sudah punah, disaat hujan akan selalu banjir karena sudah tidak ada akar yang menyerap air lagi dan pada akhirnya pun manusia akan mati kelaparan karena sudah tidak adanya persediaan makanan lagi di alam. Seperti pepatah Cree Indian Proverb “When the last tree is cut, when the last river has been poisoned, when the last fish has been caught, then we will find out that we can’t eat money.”

Belakangan ini manusia mulai mengeluh mengenai banyak hal. Mulai dari cuaca yang sudah tidak menentu, mengeai seberapa panasnya udara, hingga bagaimana susahnya mereka mendapatkan air bersih. Terkadang manusia hanya dapat mengeluh tanpa bertanya kembali, kenapa hal-hal tersebut terjadi?

Memang hal-hal ini terjadi bukan hanya kesalahan manusia yang terjadi sekali dua kali. Namun hal-hal ini terjadi karena kesalahan manusia yang telah ditumpuk dari ratusan tahun lalu. Seperti apa yang telah diceritakan oleh Pak Nico Wanandy hari ini, bahwa manusia telah merusak alam dari ratusan tahun yang lalu. Dan semakin hari, kerusakkan tersebut meningkat. Seperti hal yang terkesan sederhana, menggunakan pupuk kimia pada tumbuhan dan pohon-pohon. Juga menggunakan pestisida untuk mengusir hama-hama yang terdapat pada tanaman seperti padi. Memang segalanya yang kimia akan berproses dengan lebih cepat dan terkesan lebih ampuh. Namun kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Tanah-tanah sekarang semakin lama semakin susah untuk ditanami tanaman dan sulit bagi tanaman untuk mengambil nutrisi dari tanah tersebut. Sekarang di Indonesia, banyak petani dan pengusaha dalam bidang pertanian mengeluh karena tanaman-tanaman mereka banyak yang tidak tumbuh. Bila tumbuh pun, hasilnya tidak maksimal. Setelah diteliti ulang, ternyata hal tersebut disebabkan oleh penggunaan bahan kimia yang terlalu banyak pada tanaman. Memang pada awalnya mereka membutuhkan bahan-bahan kimia tersebut untuk membuat tanaman mereka tumbuh maksimal. Namun pada kenyataannya, tidak. Bahan-bahan kimia tersebut banyak merusak ekosistem di dalam tanah, mau pun di luar tanah. Ternyata bahan kimia tersebut banyak mempengaruhi binatang-binatang yang terdapat dalam tanah, seperti cacing. Lalu bila tidak ada cacing lagi, maka itu adalah salah satu indikator bahwa tanah tersebut sudah tidak subur. Bila tidak ada cacing, maka ada rantai makanan yang hilang di situ. Contoh lainnya, bila kita membunuh tikus yang menjadi hama pada padi, kemudian burung pun akan kehabisan makanan mereka.

Terkadang manusia merasa seperti makhluk hidup yang paling mulia diantara mahkluk hidup lainnya. Karena hanya kamilah, manusia, yang memiliki rasa dan dapat “berpikir”. Namun mengapa bila kita dapat berpikir, pada akhirnya kita juga yang merusak alam? Seharusnya manusia dapat lebih menghargai mahkluk hidup – mahkluk hidup lain. Karena kami membutuhkan kita dan mereka juga membutuhkan kita. Seharusnya manusia dapat berpikir lebih dalam lagi mengenai hal tersebut,

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s