Pengalaman yang tak terlupakan.

Kali ini, tulisanku tidak akan berhubungan dengan kegiatan KPB. Aku ingin bercerita sedikit tentang pengalaman pribadiku selama seminggu ini.

Minggu ini penuh dengan sangat banyak tantangan. Banyak hal baru. Banyak pengalaman baru. Banyak hal yang terjadi di depan mataku. Mulai dari hal yang menyenangkan, hingga hal yang menyeramkan. Minggu ini, aku menyaksikan 3 buah kecelakaan motor. Semuanya kecelakaan tunggal. Namun semuanya berdasarkan kesalahan dan kecerobohan si pengendara itu sendiri. Kecelakaan-kecelakaan tersebut terjadi di depan mataku. Dalam 1 minggu yang sama. Kejadian terjadi tepat di depan mobilku. Bila pada kejadian-kejadian tersebut mobil yang sedang aku gunakan tersebut sedang melaju cepat, aku yakin setidaknya orang yang terjatuh tersebut terlindas mobilku. Atau seminim-minimnya, akan terjadi tabrakkan beruntun. Namun pada tiga hari tersebut, mungkin Tuhan sedang berkata lain. Dan memilih untuk tidak membuat hal tersebut terjadi.

Pada minggu ini juga, salah seorang murid di Semi Palar ada yang tertimpa hal yang sama. Namun dalam kasus ini, yang tertimpa pada ia, jauh lebih berat dari kecelakaan yang terjadi apa yang telah aku lihat. Ia dan ketiga anggota keluarganya mengalami kecelakaan tunggal di jalan tol pada hari Sabtu lalu. Media masa menyebarkan banyak berita mengenainya. Tetapi ternyata semua karangan yang dibuat adalah skenario yang tidak sesuai dengan apa yang terjadi pada saat itu, menurut pengendara itu sendiri. Media masa menyampaikan bahwa kecelakaan tersebut terjadi akibat pengendara yang mengantuk. Ternyata, kecelakaan tersebut terjadi karena ada banyak jalanan yang berlubang pada jalan tol tersebut. Mobil dengan kecepatan 100 km/jam, tentu melayang ke sisi kanan jalan. Media masa juga mengatakan bahwa korban tidak ada yang mengalami luka parah. Namun ternyata, mereka mengalami cedera yang cukup parah. 3 orang mengalami patah tulang. Pada bagian kaki, tangan, pundak dan rusuk. Dan seorang balita harus menjalani operasi di bagian belakang telinganya. Inilah yang disebut dengan “luka ringan” oleh media masa.”

Setelah semua kejadian tersebut, aku langsung berpikir. Siapa saja dapat tertimpa musibah seperti itu. Kapan pun. Di mana pun. Mau disaat kita sedang jalan kaki, mengendarai mobil, menggunakan kendaraan umum, naik sepeda, apa pun. Kecelakaan dapat menimpa siapa pun. Walau pun kita sudah sangat berhati-hati. Bagiku, semua diserahkan ke tangan Tuhan. Tetapi semua kejadian ini menyadarkanku, bahwa manusia itu tidak ada apa-apanya. Mau sekaya apa pun kita, mau sebaik apa pun kita, mau sehebat apa pun kita, bila memang sudah saatnya kita meninggal, ya mau berbuat apa lagi. Jadi sejak saat itu, aku selalu mengingatkan diriku untuk selalu enjoy hidup, live life the fullest dan yang paling penting adalah untuk bersyukur setiap harinya. Selalu bersyukur dalam hal apa pun, disaat kita terkena musibah, disaat kita bahagia, bahkan disaat kita sedih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s