Bus Pukul 07:00

Hari baru. Hari pertama menginjak jenjang perkuliahan. Akuntansi. Ya, terdengar jijik dan mengerikan. Tenang saja, itu bukan pilihanku. Itu pilihan orang tuaku. Mereka ingin besar nanti anaknya ini menjadi seseorang yang dapat bekerja di bank.

Untuk mencapai kampus itu, setiap hari mata ini hari terbuka pada jam 4.30. Lalu kaki ini harus berjalan ke halte bus. Perjalanan yang harus ditempuh selama naik bus adalah 30 menit. Cukup lama. Belum kalau jalanan macet.

Ini adalah hari ke-lima badan ini menaiki bus ini. Mata ini memandang ke pemandangan di luar kaca bus ini. Lalu mata merasa mulai bosan dan beralih ke seluruh penumpang yang ada di bus ini. Lalu… Lihatlah perempuan itu. Ia terlihat manis. Kulitnya berwarna kuning langsat. Postur tubuhnya pun sangat bagus. Rambutnya panjang, hitam berkilau dan terlihat sangat lembut. Namun sayang. Ia tidak pernah tersenyum. Tetapi sepertinya ia selalu tersenyum disaat playlist lagu di hpnya terputar lagu kesukaannya. Sepertinya ia menyukai lagu bergenre classic. Seperti lagu-lagunya Ludwig van Beethoven. Tetapi tidak tahu sih. Lagunya tidak terlalu terdengar jelas karena ia selalu menggunakan earphone berwarna putih itu. 33 menit berlalu. Akhirnya bus ini sampai pada halte yang akan dituju. Tepat di depan gerbang kampus. Ternyata perempuan manis ini juga turun di halte yang sama. Dan yang lebih menarik lagi, ia juga menuju kampus yang sama. Ternyata ia juga murid ajaran Pak Eman, guru kesayangan segala umat.

Perempun cantik itu jarang sekali berbicara. Bahkan sepertinya tidak pernah! Mungkin punya teman saja tidak.. Sayang sekali. Semua lekuk tubuhnya selalu ditutupi oleh sweater andalannya yang berwarna biru laut dan celana-celananya yang kebesaran itu. Rambutnya yang indah itu selalu diikat. Muka cantiknya selalu diumpati dengan selalu melihat ke bawah. Mungkin ia tidak pd. Atau mungkin ia malu. Atau mungkin ia memang bisu! Entahlah.

Namun bila diperhatikan, ia selalu mengenakan segala gelang tangan, jam dan cincin di posisi yang sama pada setiap harinya. Tidak pernah berubah satu inci pun setiap harinya. Kukunya selalu terkikir rapih. Ia juga selalu membawa tissue kemana pun ia pergi. Karena di halte bus ini sering kotor pada bagian kursi tunggunya, maka ia selalu menggunakan tissue ini untuk mengelap debu dan air tetesan dari atap yang bolong itu. Tidak hanya di halte bus! Bahkan di dalam bus juga. Karena setiap jam 07.00, bus selalu penuh dan tidak ada tempat duduk yang tersisa, maka aku dan perempuan itu mau tidak mau harus berdiri. Seperti biasa, ia selalu mengelap penggangan yang menggantung dari atas bus tersebut. Padahal kalau dilihat sih pegangan tersebut tidak kotor.

Hari ini, Jumat, 25 Agustus 2017, ia tidak terlihat masuk ke dalam bus ini. Sepertinya ia telat. Siapa tahu ia mencoba untuk mengejar bus ini di halte selanjutnya. Namun tidak.. Bahkan setelah 30 menit perjalanan, ia tetap tidak terlihat. Aneh. Mungkin ia sedang tidak enak badan.

Keesokan harinya, muncullah juwita itu dari pintu depan bus melewati seluruh penumpang di bagian depan. Akhirnya mulut ini memberanikan diri untuk menyapanya. “Kamu kenapa enggak ke kampus kemaren?” Perempuan ini hanya diam menatapku tak berkata. Agar tidak canggung.. “Aku Joni” Tanganku pun dijulurkan untuk salaman dengannya. Tetapi melainkan mengambil tanganku, ia hanya menatapnya dan melihat kembali ke mukaku. Maka dari itu aku menurunkan tanganku. “Kita di satu jurusan yang sama, akuntansi. Kamu murid Pak Eman juga kan?” Lalu ia hanya mengangguk, lalu kepala mungilnya itu menunduk ke bawah. “Kamu setiap hari naik bus ini ya?” Ia mengangguk lagi. “Lalu kenapa kemarin kamu tidak naik bus ini? Kamu telat naik bus?” AKHIRNYA! Ia berkata sesuatu. Ternyata ia tidak bisu. Ia berkata “enggak.” Suaranya kecil. “Lalu kenapa kamu tidak naik bus?” Kemudian ia melihatku dari atas hingga bawah dan menjawab “Kemarin aku lupa mengenakan gelang dan jamku, sehingga aku kembali ke kosanku. Karena aku tahu aku akan ketinggalan bus, maka aku kembali tidur lagi. Lagi pula 2 hari lalu hujan deras. Jadi halte akan sangat becek dan air akan bocor ke kursi di halte.” Lalu di situ, barulah tersadar, bahwa ia adalah seorang perempuan OCD. Perempuan OCD yang sangat cantik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s