"Kejutan"

Ini adalah pengalaman pertama kali kami membuat sebuah pameran di luar lingkup Semi Palar. Berat? Pasti? Menegangkan? Sangat!

Pertama, kakak menawarkan untuk membuat pameran di Terminal Coffee di jalan Cemara. Namun kami, EO pameran atau yang lebih kerennya lagi kalau kata Kak Nala, art director, menyarankan kepada teman-teman untuk berpindah tempat. Dengan pertimbangan ruang exhibition dan parkiran yang kecil. Akhirnya aku kepikiran untuk pindah ke cafe deket rumahku, yaitu Nimna Book Cafe. Kebetulan aku kenal sama pemilik cafenya. Setelah minta pertimbangan dan saran dari teman-teman dan kakak-kakak, diputuskanlah untuk pindah ke cafe ini. Pas hari Selasa, aku nyempetin untuk dateng ke tempat ini untuk ketemu sama salah satu pemilik cafenya, namanya Della. Baik banget dan sangat sangat mendukung pameran ini. Terutama setelah dia denger tenatang kegiatan-kegiatan KPB. Setelah diacc sama Della, aku akhirnya ngumumin ke temen-temen di kelas soal tempat ini.

Aku harus ngejelasin ke temen-temen soal tempat ini, soal peraturan-peraturan kalo mau buat pameran di sini, juga soal apa aja yang harus dilakuin kedepannya. Repot sih. Harus dijelasin ke mereka berulang-ulang kali. Gimana kita sebagai art director harus selalu ngingetin mereka untuk diusahakan dateng ke tempat ini sebelum buat karyanya. Kekeuh. Pada ga dateng-dateng juga. Sempet ada salah paham juga sih antar art director, seniman dan kuratornya. Intinya, pada akhirnya semua masalah berhasil diselaiin. Yang stressnya lagi, si para seniman ini ngerjainnya pada mepet. Sementara Della udah nagih terus foto karya-karyanya. Untung ada salah satu senimannya yang udah selesai karyanya. Jadi aku bisa kirim dulu ke Della dan bilang “yang lain belom 100% selesai sih. Tapi kira-kira yang lain sebesar ini juga.” TERUS. Belom soal rundownnya. Della minta terus, sementara waktu itu penyanyi yang mau tampilnya pada belom fix.

Oke, langsung ke hari-hnya. Pokoknya, pusing. Awalnya semua berjalan dengan lancar. Terus tiba-tiba, aku sama Ray dipanggil sama yang punyanya. Oh no. Ada apa ya? Jangan-jangan soal workshop itu lagi… Eh iya. Taunya bener. Dia rada “marah” sih sama kita. Ga marah yang bentak-bentak. Tapi dia ngasih tau kalo dia engga suka sama cara kita. Jadi gini. Waktu itu ada miss komunikasi sama salah satu senimannya. Jadi si seniman ini, pingin buat workshop pas hari Minggu. Which is hari terkahir dan hari penutupan pameran. Aku dan tim art director sih oke banget sama workshop ini. Bahkan dia udah buat posternya. Intinya tinggal di post di Instagram. Tapi kita bilang bentar dulu ya jangan di post dulu, karena kita belom bilang ke Nimna. Eh miss komunikasi. Jadi posternya udah di post lah di Instagram. Dan waktu itu situasinya si pemilik cafenya dan Della udah liat poster itu. Yah udah deh. Si pemilik cafenya negur kalau “ini kalau bukan Semi Palar, aku udah marah, dan bahkan bisa aku keluarin langsung dari cafe ini.” Wah, shock lah aku sama Ray. Tapi akhirnya si pemiliknya bilang “ya udahlah kali ini ga apa apa. Gimana jadinya workshopnya mau jadi ga? Kalo jadi sok, tapi kita minta kejelasan, berapa orang, workshop apa dan kapan.” Akhirnya langsung deh kita bahas bareng kakak-kakak dan temen-temen yang lain biar pada ngerti masalahnya. Sekarang masalah udah clear dan engga ada yang ngeganjel sih. Semoga aja kedepannya ga ada “kejutan” baru untuk cafe ini. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s