Kriya di Sekepicung

Sejak awal semester dua ini, kelas kami sudah mulai menjalankan proyek mandiri kami di Sekepicung. Setiap orang melakukan satu proyek berdasarkan minatnya masing-masing. Mayoritas dari kami, membuat kelas-kelas belajar. Bukan kelas untuk belajar matematika atau bahasa, melainkan kelas yang berbau aktivitas atau seni. Seperti Benita, dia membuat kelas musik, Alry membuat kelas gambar bersama, Ray membuat kelas bola, Krisna membuat kelas drama, Kevin membuat kelas kaligrafi dan Qintara membuat mural bersama warga. Mereka semua lebih fokus ke membuka kelas untuk anak-anak. Aku? Aku buat apa? Kelas yang berdasarkan minat. Jujur saja, aku sangat-sangat kesulitan awalnya. Kira-kira buat kelas apa ya yang orang-orang di Sekepicung akan senang, namun sesuai dengan minat aku. Aku sendiri belum tahu minta spesifik aku apa. Karena aku masih belum punya minat spesifik, akhirnya aku ingin mencoba sesuatu yang baru, yang belum pernah atau jarang aku lakukan. Yaitu membuat kriya. Aku senang untuk mengulik dan membuat barang-barang, apa lagi yang berbau DIY (Do It Yourself). Tetapi aku selama ini jarang sekali membuat barang-barang DIY. Namun setelah sempat mengobrol dengan beberapa ibu-ibu dan berpikir-pikir kembali, sepertinya membuat kelas kriya akan menjadi challenge yang seru dan menantang juga buat aku. Dan karena aku tidak begitu mahir dalam berkomunikasi dengan anak-anak kecil, jadi seperti ibu-ibu adalah target yang cocok untukku.

Seperti biasa, step pertama aku adalah ngobrol dengan ibu-ibu di sana. Ternyata banyak juga ibi-ibu yang minat untuk membuat kriya. Katanya mereka ingin menjadi para ibu-ibu yang lebih aktif dan dapat menggunakan waktu luangnya tidak hanya untuk nonton tv atau ngerumpi. Lalu step kedua, aku bertanya-tanya kepada mereka kira-kira mereka pingin membuat kriya apa. Pada akhirnya sih mereka malah ngomong “ah terserah eneng aja ah, asalkan diajarin cara buatnya gimana mah kita hayu”. Jadi aku harus cari banyak ide untuk membuat kriya-kriya ini. Aku harus mencari banyak ide di internet, terutama sumber utamaku adalah Pinterest. Akhirnya, untuk kelas pertamaku, aku memutuskan untuk membuat karpet kecil atau keset, yang terbuat dari kain-kain bekas yang ada di rumahku. Lumayan untuk mengeluarkan barang-barang yang tidak berguna lagi. Lalu dari kain-kain bekas itu, aku akan potong-potong, sehingga dapat aku buat menjadi sebuah “kepangan” besar. Lalu “kepangan” tersebut akan aku bentuk lingkaran, yang pada akhirnya akan dijahit di ujungnya. Cukup simple sih untuk kelas pertama. Tetapi cukup untuk pertemuan pertama ini. Kedepan-depannya aku juga ingin mencoba untuk membuat semacam “bath bom” dan juga sabun organik. Di sini aku dapat kerja sama juga dengan Qintara. Karena ia sudah berpengalaman dalam membuat sabun organik.

Tujuan akhirnya aku ingin ibu-ibu di Sekepicung untuk menjadi lebih aktif lagi dan juga dapat menghasilkan produk-produk asli Sekepicung. Yang pada akhirnya dapat dijual ke cafe-cafe sekitar dan juga ke orang-orang di seluruh Bandung. Tetapi aku ingin ibu-ibu ini dapat tetap berjalan sendiri walaupun pada akhirnya aku harus berpamitan dari Sekepicung di akhir semester ini. Mimpi yang lebih besar lagi, aku ingin produk-produk ini tetap diproduksi dan dapat melibatkan ibu-ibu seluruh Sekepicung dan dapat menular ke desa-desa lain. Sehingga produk ini dapat dikenal dengan orang banyak, Bahkan dapat dijual hingga ke luar negeri!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s