Things I’ve Done

Hidup ini penuh dengan petualangan dan pintu-pintu baru bagi saya. Saya sangat ingin untuk mengeksplor dunia, budaya, dan juga bertemu dengan orang-orang baru. Sejak saya masih berumur 16 tahun, jadi banyak hal-hal yang tidak boleh dilakukan tanpa dampingan orangtua. Saya juga tipe orang yang tidak dapat dikekang oleh sebuah peraturan. Maka saya harus mencari sebuah sekolah yang sekiranya sesuai dan cocok dengan visi misi saya. Di mana sekolahnya tidak seperti sekolah konvensional lainnya. Yang kita harus duduk di kelas dan belajar matematika, bahasa, IPA, dan IPS. Setelah mencari-cari, ternyata tidak ada sekolah lain yang sekiranya cocok dengan saya. Maka dari itu saya kembali ke sekolah yang telah saya ikuti sejak saya TK. Yaitu Rumah Belajar Semi Palar, yang terletak di Bandung. Namun untuk jenjang SMA, sekolah ini memilki konsep yang sedikit berbeda dengan konsep SD dan SMPnya. SMA sekolah ini menerapkan metode unschooling dan project based on community. Sehingga keseharian kami lebih banyak bercampur dan berkegiatan dengan masyarakat langsung. Juga sekolah ini mencoba untuk membantu kami untuk menemukan passion per muridnya. SMA ini dikenal dengan KPB (Kelompok Petualang Belajar).

Pada semester 2 ini, teman-teman saya dan saya mencoba untuk fokus membuat proyek mandiri pada sebuah kampung di daerah Dago, Bandung, yaitu Sekepicung. Menurut kami, kampung ini memiliki banyak potensi yang belum diketahui oleh orang-orang di perkotaan, bahkan orang-orang di daerah Dago sendiri. Seke sendiri berarti mata air, sementara picung adalah salah satu jenis pohon yang khas di sana. Memang di kampung ini dahulu terkenal dengan adanya 8 mata air, yang di mana digunakan untuk air yang digunakan untuk keseharian warga di sana. Sayangnya, mata air yang tersisa di sana hanya 3 buah mata air. Salah satu penyebabnya adalah karena banyaknya mata air yang tertimbun atau tercemar oleh limbah-limbah dari cafe sekitar. Lalu nasibnya pun sama dengan pohon Picung. Sekarang sangat sulit untuk mencari sebuah pohon Picung yang sudah besar di sana. Berhubungan dengan perkembangan cafe yang semakin lama semakin banyak di daerah sana, ternyata semakin lama wilayah kampung ini semakin “mengecil”. Karena dengan berjalannya waktu, semakin banyak warga yang butuh uang cepat sepeti contohnya uang untuk menikahkan anaknya. Maka, kebanyakan dari warga Sekepicung menjual tanah mereka dengan harga murah.
Melihat betapa ironinya hal tersebut, KPB mencoba untuk membuat orang-orang yang berada di perkotaan untuk mengenal dan peduli dengan kampung ini. Kegiatan yang kami buat adalah salah satunya membuat agrowisata bagi orangtua-orangtua kami dan juga murid-murid di Sekolah Semi Palar dan juga membuat proyek mandiri yang berbasis di sana.
Masing-masing dari kami membuat sebuah proyek yang sekiranya sesuai dengan minat, dan pada akhirnya dapat diterapkan di sana bisa dalam bentuk apa pun. Seperti membuat workshop, membuat kelas, atau pun membuat event. Sehingga, akhirnya akan banyak warga Bandung yang dapat lebih memerhatikan kampung ini dan juga warga di sana dapat lebih berdaya lagi dalam mengelola sebuah event, ekonomi,  mau pun bisnis.

Menurut pengamatan dan hasil berbincang dengan ibu-ibu di kampung ini, banyak sekali ibu-ibu pada kisaran umur 30 tahun, yang mengaku ingin dirinya lebih kreatif dan dapat mengisi waktu-waktu kosong yang mereka miliki. Lalu saya memiliki ide untuk membuat kelas kriya bersama ibu-ibu. Setelah aku lontarkan kepada mereka mengenai ide dan rencana yang aku miliki, mereka sangat antusias dan senang untuk mengikuti kelas tersebut. Sejauh ini, peserta yang terdaftar baru 8 orang. Dengan 7 orang ibu-ibu dan 1 orang bapak-bapak. Pada proyek kali ini, saya ingin fokus memberdayakan orang-orang yang sudah memiliki dasar berkriya, agar dapat mengajarkannya kepada ibu-ibu yang lain. Dalam kasus ini, ternyata 1 orang bapak tersebut memiliki tangan yang sangat terampil. Ia sangat suka untuk membuat kriya-kriya dari sampah atau barang bekas yang Ia temukan disekeliling rumahnya. Seperti bungkus kopi, koran, potongan kayu, hingga benang bekas layangan. Ia dapat mengubahnya menjadi sebuah kriya seperti taplak meja, topi, beanie, tas, hingga cincin. Tugas saya di sini adalah membantu menyuplai barang-barang dan alat bagi para peserta yang tidak memilkinya untuk membuat kriya tersebut. Lalu saya juga mencoba untuk membantu pemasaran kriya-kriya mereka untuk dijual ke daerah perkotaan dan cafe-cafe sekitar, sehingga semakin banyak orang yang tahu mengenai kampung Sekepicung ini.

Concern saya yang kedua adalah mengenai budaya. Selain concern, saya juga sangat suka untuk mempelajari tentang budaya. Begitu juga dengan kelas saya, sehingga pada saat kami kelas 8 atau kelas 2 SMP, kami mencoba untuk membuat sebuah buku mengenai akulturasi di Kota Lasem dan Semarang. Buku ini adalah hasil akhir dari perjalanan kami yang dilakukan pada tahun 2015 ke Lasem dan Semarang. Untuk menggenapi perjalanan tersebut, kami juga membuat sebuah buku juga yang menceritakan tentang catatan perjalanan kami. Memang sejak dini, sekolah Semi Palar in sudah membuasakan kami untuk terbiasa menulis. Kami sudah mencoba untuk membuat sebuah buku fiksi yang dibuat secara bersamaan pada saat kami baru saja kelas 6 SD. Begitu juga pada saat kami kelas 7 dan kelas 9. Kami selalu membuat buku-buku karangan ilmiah mengenai perjalanan kami ke desa-desa dan juga petualangan lainnya. Namun sayangnya, buku untuk kelas 10 kali ini, belum terbit dan masih dalam proses pengeditan.

Selain buku, dari saya sendiri, impian saya adalah untuk bertemu dengan orang-orang dari segala penjuru dunia. Saya juga senang untuk bertemu dan berkenalan dengan orang-orang baru. Ternyata salah satu cara untuk mencapai hal tersebut adalah dengan mengikuti youth activities yang terdapat disekeliling kita. Kebetulan pada saat itu, saya menemukan ada sebuah kegiatan forum budaya pada bulan Oktober 2016 di Bali, yang bernama World Culture Forum. Ternyata forum ini memilki perwakilan lebih dari 20 negara dari seluruh dunia, yang datang untuk menjadi participant di kegiatan ini. Forum ini dibuka oleh UNESCO dengan tujuan “Culture for an Inclusive Sustainable Planet”. Namun kegiatan World Culture Forum ini sendiri adalah kegiatan untuk para orang-orang yang memang ada dalam bidang kebudayaan. Namun ternyata, mereka juga memilki kegiatan untuk para anak mudanya juga, yang disebut dengan International Youth Forum. Di sana, saya di masukkan ke dalam tim yang akan tinggal di sebuah desa di Bali yang bernama Penglipuran, yang terdapat di Bangli, Bali. Kami tinggal selama 5 hari di rumah-rumah penduduk untuk mengenal lebih jauh tradisi dan budaya yang terdapat di desa tersebut. Setelah itu, kami ditugaskan untuk membuat 4 masalah yang kita temukan di dunia ini, yang memiliki pengaruh besar terhadap budaya. Lalu mission-mission statements tersebut dikumpulkan untuk digabungkan dan dibuat menjadi deklarasi Bali pada tahun 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s